1 ANALISIS GRAFIK KASUS DBD DAN MALARIA (MATA KULIAH SURVEILANS EPIDEMIOLOGI)

1. Bagaimana grafik ‐1 dibaca?

2. Berdasarkan gambaran grafik‐1 tersebut, identifikasikan potensi masalah yang terjadi dan jelaskan!

3. Data apa saja yang diperlukan untuk mendukung dugaan potensi masalah yang anda sebutkan  di atas!

JAWABAN

1. Berdasarkan grafik kasus malaria di suatu wilayah tahun 1992-1996 tersebut terdapat peningkatan kasus malaria yang disebabkan oleh nyamuk Anopheles (sebagai nyamuk perantara) yang terinfestasi parasit protozoa Plasmodium falciparum sedangkan kasus malaria yang disebabkan oleh infestasi parasit yang lain mengalami penurunan. Kasus malaria yang disebabkan oleh P. falciparum yaitu:

    -          Pada tahun 1992 terjadi ± 50 kasus malaria.

    -          Pada tahun 1993 terjadi ± 100 kasus malaria.

    -          Pada tahun 1994 terjadi ± 160 kasus malaria.

    -          Pada tahun 1995 terjadi ± 210 kasus malaria.

    -          Pada tahun 1996 terjadi ± 400 kasus malaria.

    Sedangkan kasus malaria yang disebabkan oleh infestasi parasit yang lain yaitu:

    -          Pada tahun 1992 terjadi ± 500 kasus malaria.

    -          Pada tahun 1993 terjadi ± 450 kasus malaria.

    -          Pada tahun 1994 terjadi ± 290 kasus malaria.

    -          Pada tahun 1995 terjadi ± 240 kasus malaria.

    -          Pada tahun 1996 terjadi ± 100 kasus malaria.

    2. Dari grafik tersebut terdapat potensi masalah kecenderungan meningkat kasus malaria akibat P.falciparum serta distribusi vektor malaria semakin meluas. Hal ini berbahaya karena P.falciparum adalah jenis parasit yang menyebabkan infeksi yang paling berbahaya dengan tingkat komplikasi dan kematian yang tertinggi.

    c ANALISIS GRAFIK KASUS DBD DAN MALARIA (MATA KULIAH SURVEILANS EPIDEMIOLOGI)

    Selain itu, masalah surveilans, khususnya pemantauan wilayah setempat masih kurang. Diperlukan kegiatan pengumpulan, pengolahan, interpretasi data serta diseminasi data dan informasi dirasa sangat penting. Data diciptakan untuk menjadi input yang menghasilkan informasi sebagai output dengan action sebagai feed back. Surveilans malaria diperlukan untuk dapat melakukan action yang tepat berdasarkan pendekatan epidemiologi orang, tempat, dan waktu karena masing-masing orang berbeda dalam penanganannya. Monitoring dan evaluasi surveilans dalam distribusi kasus malaria dan tempat kejadian malaria akan menentukan tindakan selanjutnya yang akan dilaksanakan.  Selain itu juga peran P1, P2, P3  (fungsi manajemen yaitu perencanaan, pelaksanaan, monev surveilans harus benar-benar diperhatikan).

    3. Data yang dibutuhkan untuk mendukung dugaan masalah kecenderungan meningkat pada kasus malaria yaitu:

    -          Data Annual Parasite Incidence (API)/ angka kesakitan malaria tahunan yang didapat dengan rumus yaitu :

    3 ANALISIS GRAFIK KASUS DBD DAN MALARIA (MATA KULIAH SURVEILANS EPIDEMIOLOGI)

    -          Data klasifikasi daerah endemis malaria

    4 ANALISIS GRAFIK KASUS DBD DAN MALARIA (MATA KULIAH SURVEILANS EPIDEMIOLOGI)

    -          Data Monthly Parasite Incidence (MoPI)

    Angka kesakitan malaria bulanan dengan formula jumlah kasus malaria perbulan dibagi jumlah penduduk dikalikan 1000. Digunakan untuk mengetahui perkembangan kasus malaria perbulan.

    -          Data mengenai origin.

    Menyatakan apakah penderita termasuk dalam penularan indegenous (lokal), relaps, atau import case yang datang dari luar wilayah. Hal ini berguna untuk menilai kinerja penemuan kasus di lapangan serta peningkatan surveilans migration.

    51 ANALISIS GRAFIK KASUS DBD DAN MALARIA (MATA KULIAH SURVEILANS EPIDEMIOLOGI)

    1. Bagaimana Grafik_2 dibaca?

    2. Bagaimana hubungan curah hujan dan kejadian kasus DBD?

    Jawaban

    1. Berdasarkan grafik kasus DBD dan curah hujan tahun 2007 s/d 2009 dapat disimpulkan bahwa curah hujan dan angka kasus DBD tidak memiliki hubungan yang begitu signifikan. Hal ini dapat terlihat dengan semakin tinggi curah hujan maka kasus DBD yang terjadi semakin meningkat terutama pada bulan Januari tahun 2008.  Namun pada tahun 2009 curah hujan dan angka kasus DBD terlihat tidak memiliki hubungan yang nyata, hal ini dapat terjadi karena beberapa faktor yaitu:

      1.)  Nyamuk Ae. Aegypti resisten terhadap fogging

      Fogging seringkali menjadi pilihan utama masyarakat di Indonesia saat terjadi kasus DBD. Padahal fogging hanya membunuh nyamuk vektor DHF yang dewasa saja sementara telur, jentik nyamuk masih ada dan sesuai siklus hidup nyamuk, maka mereka akan menjadi nyamuk dewasa. Hal ini yang mengakibatkan nyamuk resisten terhadap fogging yang diberikan terus menerus karena pada dasarnya nyamuk beradaptasi dengan mutasi gen ke arah yang lebih baik. Tidak hanya gen yang bermutasi, virus DHF pun menjadi lebih baik. Akibat resistensi ini memberikan dampak lain yang lebih mengkhawatirkan yaitu munculnya varian baru yang dikenal sebagai “X-musquitoes” atau “muxxxquitoes” yang ditengarai merupakan varian terganas dari nyamuk DBD yang bertanggung jawab terhadap munculnya Dengue Shock Syndrome (DSS) dan kematian. Kemungkinan besar hal tersebut terkait dengan ketidak patuhan petugas melaksanakan standar operating prosedur fogging atau efek migrasi nyamuk di luar daerah fogging focus (meliputi area 200-300 m2 saja) sehingga ada kemungkinan nyamuk DBD yang punya jelajah terbang sampai 100 m memang tidak terpapar dosis insektisida secara adekuat. Hal ini yang mengakibatkan kasus DHF tidak pernah menurun (P4K UNDIP, 2009).

      2.) Global warming.

      Perubahan cuaca menyebabkan perubahan panas matahari yang terpapar untuk manusia dan kehidupan. Akibatnya, terjadi penyakit-penyakit yang berhubungan dengan panas yang dapat menyebabkan kematian. Perubahan cuaca juga mengubah curah hujan berada di bawah normal pada sebagian daerah dan meningkat drastis pada daerah lain sehingga masa tanam terganggu.

      Dampak negatif yang lain adalah perubahan ekosistem yang berakibat pada meningkatnya penyebaran penyakit melalui vektor. Nyamuk Aedes Aegypti yang biasanya lebih suka hidup di daerah perkotaan yang panas kini mulai merambah ke daerah pegunungan. Hal Ini merupakan yang ditimbulkan oleh global waming. Saat ini, bahkan kawasan pegunungan pun bukan dingin lagi melainkan sudah panas.

      Perubahan iklim dengan temperatur yang cenderung meningkat akan mempercepat pertumbuhan larva menjadi dewasa dan percepatan siklus gonotrophic.  Percepatan siklus gonotrphic berarti nyamuk vektor menjadi lebih cepat berkembang biak sehingga padat populasi lebih cepat meningkat dalam kurun waktu tertentu, perubahan rhytme temperatur, kelembaban nisbi, angin dan cahaya serta hujan juga dapat berpengaruh terhadap perubahan perilaku vektor dalam pemilihan hospes sasaran mencari makan (biting preferences), perilaku tempat menggigit, aktivitas waktu mengigit (biting activities), pemilihan tempat beristirahat (resting places), perilaku berkembang biak (breeding behavior) yang berhubungan dengan tipe habitat, response terhadap insektisida dan response terhadap intervensi yang lain (response to insecticides and control measures), dan lain-lainnya (Pontianak Pos, 2008).

      3.) Perubahan iklim.

      Menurut Khin dan Than (1983), yang berhasil mengisolasi virDen serotip 2 (Den-2) dari kumpulan larva Ae.aegypti di Yangoon, Myanmar, transmisi diperkirakan juga bisa tejadi secara vertikal (transovarial)  yaitu dari nyamuk Ae. aegypti betina gravid yang terinfeksi virus Dengue sebagai induk ke ovum (telur) dalam uterus nyamuk itu. Beberapa kota di Indonesia seperti Yogyakarta, Salatiga dan Kotawaringin terbukti adanya penularan virus dengue secara transovarial dengan indeks trasmisi bervariasi, artinya nyamuk muda yang baru menetas telah infektiv virus dengue dan siap sebagai sumber penularan baru.

      Curah hujan mempunyai kontribusi utama terhadap tersedianya habitat nyamuk Aedes aegypti dan Ae. albopictus, peningkatan habitat perkembangan vektor diakibatkan oleh meningkatnya frekuensi hari hujan sehingga menambah breeding pleaces didukung kombinasi antara hujan, temperatur, sistem penyediaan air minum belum baik, kondisi lingkungan pemukiman perkotaan yang padat serta tingginya tingkat mobilitas penduduk yang mendukung.

      Perubahan iklim dengan temperatur yang cenderung meningkat akan mempercepat pertumbuhan larva menjadi dewasa dan percepatan siklus gonotrophic (Pontianak Pos, 2008).

      4.) Pengelolaan sampah yang buruk.

      Sampah dapat membawa dampak yang buruk pada kondisi kesehatan manusia. Bila sampah dibuang secara sembarangan atau ditumpuk tanpa ada pengelolaan yang baik, maka akan menimbulkan berbagai dampak kesehatan yang serius. Tumpukan sampah rumah tangga yang dibiarkan begitu saja akan mendatangkan tikus got dan serangga (lalat, kecoa, lipas, kutu, nyamuk, dan lain-lain) yang membawa kuman, virus, bakteri penyebab penyakit.

      Jika pengelolaan sampah tidak baik maka banyak sampah yang dapat meningkatkan tempat perindukan nyamuk Ae. Aegypti. Seperti halnya kaleng bekas, bambu, daun-daun yang berisi air. Sampah-sampah tersebut jika terkena hujan akan menjadi tempat perindukan alami bagi nyamuk  Ae. Aegypti.

      5.) Ketersediaan air bersih yang kurang.

      Sebelumnya nyamuk Aedes aegypti hanya suka berada di air bersih, namun sekarang mereka juga bisa tinggal di air yang sudah terpolusi. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa nyamuk Ae. Aegypti dapat hidup pada air yang mengandung deterjen, kaporit, dan kotoran hewan. Nyamuk yang sebelumnya hanya berkembangbiak di air yang tidak bersentuhan langsung dengan tanah, saat ini juga sudah dapat hidup pada air yang bersentuhan langsung dengan tanah.

      Dengan berkurangnya ketersediaan air bersih, maka semakin banyak pula tempat air yang kotor, air bekas mencuci yang tidak dibuang karena tidak adanya air bersih pun semakin meningkat. Sehingga dapat menjadi tempat perindukan nyamuk Ae. Aegypti.

      6.) Kepadatan penduduk, lebih padat lebih mudah untuk terjadi penularan DBD, oleh karena jarak terbang nyamuk diperkirakan 50 meter.

      7.) Mobilitas penduduk, memudakan penularan dari suatu tempat ke tempat lain.

      8.) Kualitas perumahan, jarak antar rumah, pencahayaan, bentuk rumah, bahan bangunan akan mempengaruhi penularan. Bila di suatu rumah ada nyamuk penularnya maka akan menularkan penyakit di orang yang tinggal di rumah tersebut, di rumah sekitarnya yang berada dalam jarak terbang nyamuk dan orang-orang yang berkunjung kerumah itu.

      9.) Pendidikan, akan mempengaruhi cara berpikir dalam penerimaan penyuluhan dan cara pemberantasan yang dilakukan.

      10.)  Penghasilan, akan mempengaruhi kunjungan untuk berobat ke puskesmas atau Rumah Sakit.

      11.)  Mata pencaharian, mempengaruhi penghasilan.

      12.)  Sikap hidup, kalau rajin dan senang akan kebersihan dan cepat tanggap dalam masalah akan mengurangi resiko ketularan penyakit.

      13.)  Perkumpulan yang ada, bisa digunakan untuk sarana PKM.

      14.)  Golongan umur, akan memperngaruhi penularan penyakit. Lebih banyak

      15.)  golongan umur kurang dari 15 tahun berarti peluang untuk sakit DBD lebih besar.

      16.)  Suku bangsa, tiap suku bangsa mempunyai kebiasaannya masing-masing, hal ini juga mempengaruhi penularan DBD.

      17.)  Kerentanan terhadap penyakit, tiap individu mempunyai kerentanan tertentu terhadap penyakit, kekuatan dalam tubuhnya tidak sama dalam menghadapi suatu penyakit, ada yang mudah kena penyakit, ada yang tahan terhadap penyakit.

      2. Namun, curah hujan dapat memiliki pengaruh terhadap angka kasus DBD. Penelitian tentang pengaruh Curah Hujan (iklim) dengan kejadian DBD dapat terlihat dalam tabel berikut:

      b2 ANALISIS GRAFIK KASUS DBD DAN MALARIA (MATA KULIAH SURVEILANS EPIDEMIOLOGI)

      7 ANALISIS GRAFIK KASUS DBD DAN MALARIA (MATA KULIAH SURVEILANS EPIDEMIOLOGI)

      Dari grafik Angka Bebas Jentik dan Kasus DBD tahun 2009 maka dapt disimpulkan bahwa kasus DBD tidak hanya dipengaruhi oleh angka bebas jentik. Hal ini dapat terlihat bahwa pada bulan Juli dengan angka bebas jentik sebesar 83,89 dan kasus DBD mengalami peningkatan sebesar 166 kasus dibandingkan dengan bulan sebelumnya yaitu bulan Mei, padahal bulan Mei dan bulan Juli memiliki ABJ yang sama namun jumlah kasus DBD nya berbeda. Hal tersebut dapat terjadi karena masih terdapatnya breeding place bagi nyamuk vektor DBD. Perlu diingat bahwa bebas jentik tersebut hanya berdasarkan kondisi di dalam rumah/khususnya bak mandi padahal nyamuk vektor DBD tidak hanya berkembang di kontainer/bak mandi melainkan juga di :

      a. Tempat penampungan air yang bersifat tetap (TPA)

      Penampungan ini biasanya dipakai untuk keperluan rumah tangga seharihari, pada umumnya keadaan airnya adalah jernih, tenang dan tidak mengalir seperti bak mandi, bak WC, drum penyimpanan air dan lain-lain.

      b. Bukan tempat penampungan air (non TPA).

      Adalah kontainer atau wadah yang bisa menampung air, tetapi bukan untuk keperluan sehari-hari seperti tempat minum hewan piaraan, barang bekas (ban, kaleng, botol, pecahan piring/gelas), vas atau pot bunga dan lain-lain.

      c. Tempat perindukan alami.

      Bukan tempat penampungan air tetapi secara alami dapat menjadi tempat penampungan air misalnya potongan bambu, lubang pagar, pelepah daun yang berisi air dan bekas tempurung kelapa yang berisi air.

      Selain itu curah hujan juga memiliki hubungan terhadap kasus DBD. Curah hujan mempunyai kontribusi utama terhadap tersedianya habitat nyamuk Aedes aegypti dan Ae. albopictus, peningkatan habitat perkembangan vektor diakibatkan oleh meningkatnya frekuensi hari hujan sehingga menambah breeding pleaces didukung kombinasi antara hujan, temperatur, sistem penyediaan air minum belum baik, kondisi lingkungan pemukiman perkotaan yang padat serta tingginya tingkat mobilitas penduduk yang mendukung.

      Potensi masalah yang terjadi berdasarkan grafik 2 dan 3 adalah semakin banyaknya breeding place nyamuk Aedes aegypti yang merupakn vektor penyakit DBD dimana keberadaan breeding place tersebut dipengaruhi oleh:

      a) Suhu udara

      Nyamuk dapat bertahan hidup pada suhu rendah, tetapi metabolismenya menurun atau bahkan terhenti bila suhunya turun sampai dibawah suhu kritis. Pada suhu yang lebih tinggi dari 350 c juga mengalami perubahan dalam arti lebih lambatnya proses-proses fisiologis, rata-rata suhu optimum untuk pertumbuhan nyamuk adalah 25 0 C – 270 C. Pertumbuhan nyamuk akan terhenti sama sekali bila suhu kurang 100 C atau lebih dari 400 C. Dengan adanya perubahan suhu bumi, maka nyamuk Ae. aegypti akan berusaha mencari tempat hidup yang sesuai untuk pertumbuhannya. Sehingga nyamuk vektor DBD dapat hidup di daerah tropis dan sub tropis.

      b) Kelembaban nisbi

      Kelembaban udara yang terlalu tinggi dapat mengakibatkan keadaan rumah menjadi basah dan lembab yang memungkinkan berkembangbiaknya kuman atau bakteri penyebab penyakit. Kelembaban yang baik berkisar antara 40 % – 70%. Untuk mengukur kelembaban udara digunakan hidrometer, yang dilengkapi dengan jarum penunjuk angka relatif kelembaban. Kelembaban ini berhubungan dengan curah hujan dan perilaku manusia. Dengan curah hujan yang tinggi maka kelembaban pun akan tinggi dan nyamuk pun suka dengan tempat yang lembab. Oleh karena itu, banyak nyamuk akan berkembang biak dan menjadi vektor penyakit DHF, dengan kata lain tempat perindukan nyamuk akan menjadi lebih banyak dan kasus DBD pun akan meningkat.

      c) Curah hujan

      Hujan berpengaruh terhadap kelembaban nisbi udara dan tempat perindukan nyamuk juga bertambah banyak.

      d) Kecepatan angin

      Kecepatan angin secara tidak langsung berpengaruh pada kelembaban dan suhu udara, disamping itu angin berpengaruh terhadap arah penerbangan nyamuk.

      Iklim mikro adalah faktor-faktor kondisi iklim setempat yang memberikan pengaruh langsung terhadap kenikmatan (fisik) dan kenyamanan (rasa) pemakai di sebuah ruang bangunan. Sedangkan iklim makro adalah kondisi iklim pada suatu daerah tertentu yang meliputi area yang lebih besar dan mempengaruhi iklim mikro.

      Iklim mikro berpengaruh terhadap kasus DBD. Efek iklim terhadap kesehatan secara tidak langsung sudah dikenal sejak lama. Dan kita mengenal siklus demam berdarah yang terkait dengan musim hujan. Menurut Khin dan Than (1983), yang berhasil mengisolasi virDen serotip 2 (Den-2) dari kumpulan larva Ae.aegypti di Yangoon, Myanmar, transmisi diperkirakan juga bisa tejadi secara vertikal (transovarial)  yaitu dari nyamuk Ae. aegypti betina gravid yang terinfeksi virus Dengue sebagai induk ke ovum (telur) dalam uterus nyamuk itu. Beberapa kota di Indonesia seperti Yogyakarta, Salatiga dan Kotawaringin terbukti adanya penularan virus dengue secara transovarial dengan indeks trasmisi bervariasi, artinya nyamuk muda yang baru menetas telah infektiv virus dengue dan siap sebagai sumber penularan baru.

      Dampak kesehatan yang disebabkan karena penyimpangan iklim yaitu semakin meningkatnya peluang mewabahnya penyakit demam berdarah, infeksi saluran pernapasan (ISPA), dan diare. Penyakit demam berdarah  setiap tahun selalu dijumpai terutama terjadi dalam fase pergantian musim. Pergantian musim yang ekstrim akan berakibat prevalensi penyakit ini meningkat secara tajam. Saat pergantian musim penghujan ke musim kemarau ,serta kondisi suhu udara sebagian besar kota-kota di Jawa Timur (Jatim) 23-31 derajat Celsius, merupakan saat yang tepat munculnya nyamuk Aedes aegipty, penyebab penyakit demam berdarah (DB).

      Curah hujan mempunyai kontribusi utama terhadap tersedianya habitat nyamuk Aedes aegypti dan Ae. albopictus, peningkatan habitat perkembangan vektor diakibatkan oleh meningkatnya frekuensi hari hujan sehingga menambah breeding pleaces didukung kombinasi antara hujan, temperatur, sistem penyediaan air minum belum baik, kondisi lingkungan pemukiman perkotaan yang padat serta tingginya tingkat mobilitas penduduk yang mendukung.

      Perubahan iklim dengan temperatur yang cenderung meningkat akan mempercepat pertumbuhan larva menjadi dewasa dan percepatan siklus gonotrophic (Pontianak Pos, 2008).

      Sumber : http://anggitprihatnolo.students-blog.undip.ac.id/archives/14


      Make a comment

      Name (required)

      Email (required)

      Website

      You can use these tags:
      <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

      Comments links could be nofollow free.

      Trackback URL for this post.

      Improve the web with Nofollow Reciprocity.